Ringkasan: Survei YouGov yang dirilis 19 Mei 2026 menunjukkan mayoritas warga Indonesia menolak perbankan yang masih mendanai proyek batu bara — 71% percaya bank tidak seharusnya membiayai proyek emisi tinggi, dan 43% siap berpindah bank jika lembaga keuangannya terus mendanai proyek batu bara baru. Data ini bukan sekadar opini publik; ini sinyal risiko bisnis nyata bagi industri perbankan Indonesia.
Apa yang Sebenarnya Diungkap Survei YouGov Ini?

Angka 71 persen bukan hasil jajak pendapat media sosial. Ini data dari survei YouGov yang ditugaskan oleh organisasi advokasi Market Forces, dilakukan pada Maret 2026 terhadap 4.000 responden di tiga negara — Indonesia, Malaysia, dan Singapura — dengan 2.000 responden berasal dari Indonesia.
Laporan bertajuk “Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore” ini mengonfirmasi sesuatu yang selama ini diperkirakan tetapi belum pernah terukur: masyarakat Indonesia sudah jauh lebih sadar iklim dibanding asumsi banyak pihak.
Tiga temuan paling krusial dari survei ini:
- 71% warga Indonesia percaya bank seharusnya tidak mendanai perusahaan atau proyek dengan emisi gas rumah kaca tinggi.
- 43% menyatakan akan mempertimbangkan berpindah bank jika lembaga keuangannya masih membiayai proyek batu bara baru.
- 96% warga Indonesia menyatakan cukup hingga sangat peduli terhadap perubahan iklim — tertinggi dibanding Malaysia (85%) dan Singapura (81%).
Angka 96% itu mengejutkan. Indonesia, yang ekonominya masih bergantung signifikan pada ekspor batu bara, ternyata memiliki tingkat kepedulian iklim lebih tinggi dari Singapura yang sudah melarang PLTU batu bara baru sejak lama.
Ini bukan tren biasa. Ini pergeseran preferensi konsumen yang memiliki implikasi langsung terhadap kebijakan publik yang berdampak luas pada masyarakat.
Data Lengkap Survei: 8 Temuan Utama yang Harus Diketahui

Berikut ringkasan seluruh temuan kunci dari laporan Banks and Coal Financing (YouGov/Market Forces, Maret 2026):
| # | Temuan | Persentase | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1 | Warga percaya pembiayaan batu bara perburuk krisis iklim | 60% | 3 dari 5 warga Indonesia |
| 2 | Bank seharusnya tidak danai proyek emisi tinggi | 71% | Tertinggi di antara 3 negara |
| 3 | Siap berpindah bank jika masih danai batu bara baru | 43% | Risiko churn nasabah nyata |
| 4 | Tidak percaya bank yang “stop batu bara” tapi masih danai perusahaan pembangun PLTU | 54% | Greenwashing terdeteksi publik |
| 5 | Berharap komitmen stop batu bara berlaku untuk semua jenis proyek, termasuk PLTU captive | 66% | Termasuk smelter nikel & aluminium |
| 6 | Tidak anggap nikel “hijau” jika diproduksi pakai PLTU batu bara | 61% | Relevan untuk industri hilirisasi |
| 7 | Kepedulian iklim Indonesia vs Malaysia | 96% vs 85% | Gap 11 poin persentase |
| 8 | Kepedulian iklim Indonesia vs Singapura | 96% vs 81% | Gap 15 poin persentase |
Sumber: YouGov / Market Forces, “Banks and Coal Financing: Public Perception Survey”, Maret 2026. Dirilis 19 Mei 2026.
Angka di baris 4 dan 5 patut dicermati lebih dalam. Sebanyak 54% warga tidak mempercayai klaim “stop batu bara” dari bank yang diam-diam masih mendanai kontraktor atau perusahaan induk dari proyek yang sama. Ini menunjukkan literasi publik soal greenwashing sudah jauh lebih maju dari yang dibayangkan pelaku industri keuangan.
Bagaimana Posisi Perbankan Indonesia Sekarang?
Indonesia adalah salah satu eksportir batu bara terbesar dunia. Ekspor batu bara tercatat menyumbang 70,33% dari total ekspor komoditas dengan kenaikan signifikan dalam dua tahun terakhir. Bank-bank besar domestik — termasuk yang sering dikaitkan dengan pembiayaan energi — masih memiliki portofolio signifikan di sektor ini.
Pertanyaannya: apakah bank Indonesia sudah merespons sinyal dari survei ini?
Bernadette Maheandiran, Direktur Asia Energy Finance dari Market Forces, menyatakan secara tegas bahwa “bank di Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus menyadari bahwa membiayai proyek batu bara menimbulkan risiko serius bagi iklim, ekonomi, dan kepercayaan nasabah mereka.”
Tiga risiko itu — iklim, ekonomi, kepercayaan — adalah tiga dimensi yang beroperasi di skala berbeda tetapi saling terhubung. Kepercayaan nasabah adalah yang paling cepat bergerak.
Untuk memahami skala eksposur perbankan, lihat bagaimana industri perbankan Indonesia telah berkembang dalam konteks tekanan regulasi dan pergeseran preferensi nasabah dalam beberapa tahun terakhir.
Perbandingan Regional: Indonesia, Malaysia, Singapura
Survei ini membandingkan tiga negara ASEAN yang memiliki profil berbeda dalam transisi energi:
| Indikator | Indonesia | Malaysia | Singapura |
|---|---|---|---|
| Kepedulian iklim tinggi | 96% | 85% | 81% |
| Tolak bank danai proyek emisi tinggi | 71% | 58% | 61% |
| Siap pindah bank (batu bara baru) | 43% | Data tidak dirinci | Data tidak dirinci |
| Tidak percaya klaim “stop batu bara” | 54% | Data tidak dirinci | Data tidak dirinci |
Sumber: YouGov / Market Forces, Maret 2026
Yang menarik: Indonesia justru menunjukkan angka kepedulian dan penolakan tertinggi, padahal secara ekonomi paling tergantung pada batu bara di antara ketiganya. Ini mengindikasikan bahwa pengalaman langsung — banjir, kemarau ekstrem, longsor yang frekuensinya meningkat — mendorong kepedulian iklim lebih efektif daripada kampanye lingkungan semata.
Ginanjar Ariyasuta dari Market Forces menyebutnya sebagai “alarm penting, bukan hanya bagi perbankan, tetapi juga bagi industri mineral kritis di Indonesia.” Industri mineral kritis yang dimaksud mencakup smelter nikel dan aluminium yang selama ini mengandalkan PLTU captive berbasis batu bara.
Dampak Terhadap Masyarakat Indonesia: Lebih dari Sekadar Isu Lingkungan
Isu ini bukan eksklusif milik aktivis lingkungan. Ada tiga lapisan dampak yang menyentuh kehidupan sehari-hari:
1. Dampak Kesehatan dan Bencana
PLTU batu bara adalah kontributor polusi udara dan emisi karbon yang terukur. Kepedulian 96% warga Indonesia soal iklim bukan lahir dari literasi akademis — sebagian besar lahir dari pengalaman langsung menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Banjir besar di berbagai wilayah Sumatera misalnya bukan lagi kejadian langka.
2. Dampak pada Kepercayaan Institusi Keuangan
43% nasabah yang siap berpindah bank adalah sinyal churn yang konkret. Jika angka ini ditranslasi ke jumlah rekening aktif perbankan Indonesia yang mencapai ratusan juta, ini representasi risiko bisnis dalam skala besar. Gerakan masyarakat sipil yang menuntut perubahan dari institusi publik dan swasta — seperti yang terjadi di aksi buruh Jakarta 2025 — menunjukkan bahwa tekanan publik bisa berujung pada perubahan nyata.
3. Dampak pada Hilirisasi dan Investasi
61% warga yang tidak menganggap nikel “hijau” jika diproduksi dengan PLTU batu bara adalah ancaman bagi narasi hilirisasi Indonesia yang sedang dibangun. Program ketahanan energi nasional yang digaungkan pemerintah — termasuk dalam kerangka ketahanan pangan dan energi ala Presiden Prabowo — perlu mempertimbangkan dimensi ini agar tidak berbenturan dengan ekspektasi publik domestik dan tekanan investor internasional.
Apa yang Harus Dilakukan: Panduan Operasional untuk Berbagai Pihak
Untuk Nasabah Perbankan
- Cek kebijakan lingkungan bank Anda — cari laporan keberlanjutan (sustainability report) yang dipublikasikan secara terbuka.
- Verifikasi klaim “hijau” — 54% warga sudah skeptis terhadap klaim greenwashing. Tanyakan: apakah bank yang sama masih membiayai kontraktor PLTU batu bara?
- Gunakan hak Anda sebagai nasabah — berpindah bank adalah keputusan sah yang dilindungi regulasi OJK. Tidak ada biaya penalti untuk menutup rekening tabungan reguler.
- Ikuti perkembangan regulasi — OJK memiliki roadmap taksonomi keuangan berkelanjutan yang mewajibkan bank melaporkan eksposur ke sektor berisiko iklim.
- Bangun literasi keuangan hijau — pahami perbedaan antara green bond, ESG fund, dan produk “hijau” yang hanya label pemasaran.
Untuk Pelaku Industri Perbankan
- Audit portofolio batu bara segera — bukan untuk keperluan PR, tetapi untuk manajemen risiko reputasi dan kredit jangka panjang.
- Pisahkan pembiayaan langsung dari pembiayaan tidak langsung — publik sudah paham perbedaan ini (54% tidak percaya bank yang stop langsung tapi masih danai perusahaan pembangun PLTU).
- Komunikasikan timeline transisi secara jelas dan terverifikasi — komitmen tanpa target tahun dan mekanisme akuntabilitas tidak akan dipercaya.
- Kembangkan produk keuangan untuk energi terbarukan — ini bukan hanya respons iklim, ini peluang pasar yang didukung preferensi 71% nasabah potensial.
- Libatkan pemangku kepentingan lokal — bukan sekadar laporan tahunan, tetapi dialog publik yang terbuka dan bisa diverifikasi.
- Perkuat tata kelola ESG di level direksi — bukan hanya CSR, tetapi integrasi kebijakan lingkungan ke dalam proses keputusan kredit utama.
- Siapkan skenario stranded asset — aset energi fosil yang kehilangan nilai sebelum habis masa pakainya sudah menjadi risiko nyata dalam kalkulasi investasi global.
FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Muncul
Apa itu survei YouGov soal bank dan batu bara ini?
Survei ini berjudul “Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore,” dilakukan oleh YouGov atas penugasan Market Forces pada Maret 2026. Melibatkan 4.000 responden di tiga negara ASEAN, dengan 2.000 responden dari Indonesia. Hasilnya dirilis secara resmi pada 19 Mei 2026.
Mengapa 43 persen warga siap pindah bank?
Angka ini mencerminkan keputusan ekonomi berbasis nilai. Nasabah yang memiliki pilihan bank lain — dan di Indonesia jumlahnya banyak — akan memilih institusi yang lebih selaras dengan nilai mereka, termasuk kepedulian iklim. Ini fenomena yang sudah terjadi di pasar keuangan Eropa dan kini mulai terlihat di Asia Tenggara.
Apakah bank Indonesia sudah merespons survei ini?
Belum ada pernyataan resmi dari asosiasi perbankan Indonesia (Perbanas) atau bank-bank besar yang secara spesifik merespons temuan survei ini per tanggal penerbitan artikel. OJK memiliki Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) yang menjadi kerangka regulasi, tetapi implementasinya masih bervariasi antarinstitusi.
Apakah ini berarti bank akan langsung stop danai batu bara?
Tidak otomatis. Transisi energi di Indonesia membutuhkan waktu dan koordinasi dengan target bauran energi pemerintah. Namun survei ini memperkuat argumen bahwa risiko reputasi dari pembiayaan batu bara sudah mulai setara — bahkan melebihi — risiko finansial langsung. Pelajari lebih lanjut tentang dinamika polarisasi opini publik di media sosial yang turut membentuk narasi ini.
Siapa Market Forces dan mengapa mereka menugaskan survei ini?
Market Forces adalah organisasi advokasi internasional yang berfokus pada mendorong lembaga keuangan melepas diri dari investasi bahan bakar fosil. Mereka aktif di Indonesia, Malaysia, Australia, dan sejumlah negara lain. Penugasan survei kepada YouGov — lembaga riset independen bereputasi global — memberi bobot metodologis yang tidak bisa diabaikan. Untuk konteks literasi politik lebih luas, lihat 5 solusi cepat atasi hoaks politik agar bisa membedakan klaim berbasis data dari narasi yang tidak terverifikasi.
Penutup: Sinyal Ini Sudah Terlalu Kuat untuk Diabaikan
Survei YouGov Maret 2026 bukan sekadar laporan opini. Ini adalah peta risiko untuk industri perbankan dan sinyal preferensi dari 96% masyarakat yang mengaku peduli terhadap iklim.
Tiga angka yang wajib diingat: 71% menolak pembiayaan proyek emisi tinggi. 43% siap berpindah bank. 54% sudah skeptis terhadap klaim greenwashing.
Bagi nasabah, ini adalah bukti bahwa suara Anda sebagai konsumen keuangan punya bobot. Bagi perbankan Indonesia, ini adalah peringatan dini yang datang dalam bentuk data — bukan demonstrasi di depan kantor.
🔖 Simpan artikel ini dan bagikan — data ini relevan untuk siapa pun yang memiliki rekening bank di Indonesia.
📧 Dapatkan update berita dan analisis terbaru langsung ke inbox Anda — daftarkan email Anda ke newsletter viralgujarati.com.