Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik

Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Denmark mencapai puncaknya di Januari 2026. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa “anything less” dari kontrol penuh AS atas Greenland adalah “unacceptable”, sementara Denmark dan Greenland dengan tegas menolak upaya pengambilalihan tersebut. Pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih pada 14 Januari 2026 tidak menghasilkan terobosan signifikan.

Krisis ini bukan sekadar isu bilateral—ia mengancam kohesi NATO dan mengubah lanskap geopolitik Arktik. Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti perkembangan politik internasional, memahami kronologi dan implikasi dari krisis Greenland ini penting untuk melihat bagaimana dinamika kekuatan global bergeser di era Trump kedua.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam: latar belakang historis ambisi Trump terhadap Greenland, penolakan tegas dari Denmark dan Greenland, data polling yang menunjukkan sentimen publik, implikasi terhadap NATO, serta analisis para ahli tentang masa depan krisis ini.


Latar Belakang: Ambisi Trump Terhadap Greenland

Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik

Donald Trump pertama kali menyuarkan keinginannya untuk membeli Greenland pada 2019 selama masa kepresidenan pertamanya. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen saat itu menyebut gagasan tersebut “absurd”, yang memicu ketegangan diplomatik singkat.

Namun, sejak pelantikannya yang kedua pada Januari 2025, Trump semakin gencar menegaskan bahwa AS harus mengakuisisi Greenland sebagai bagian dari kebijakan ekspansionisme Amerika. Retorika Trump meningkat drastis di awal 2026, terutama setelah operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari 2026 yang menumbangkan Presiden Nicolas Maduro.

Mengapa Greenland Menjadi Target?

Trump dan timnya memberikan beberapa justifikasi untuk mengakuisisi Greenland:

Keamanan Nasional: Trump berulang kali menyatakan bahwa AS “membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional” dan menegaskan bahwa mengakuisisi Greenland “esensial untuk Golden Dome”—sistem pertahanan rudal balistik senilai $175 miliar yang sedang dikembangkan Pentagon.

Ancaman dari Rusia dan China: Trump memperingatkan bahwa jika AS tidak mengamankan Greenland, “Rusia atau China bisa mengambil alih pulau yang berlokasi strategis tersebut”. Namun, klaim ini diperdebatkan oleh para ahli.

Connor McPartland, mantan wakil direktur Office for Arctic and Global Security Pentagon hingga September 2025, mencatat bahwa China memiliki kepentingan komersial minimal di pulau tersebut dan tidak ada peningkatan aktivitas angkatan laut Rusia atau China di dekat pulau itu. Marisol Maddox, senior fellow di Institute of Arctic Studies Dartmouth, menjelaskan: “Greenland bukanlah tempat kita melihat aktivitas ini. Di mana kita melihat aktivitas militer bersama Rusia dan China adalah di lepas pantai Alaska”.

Sumber Daya Mineral: Meskipun Trump meremehkan faktor ini, US Geological Survey memperkirakan Greenland memiliki sekitar 1,5 juta ton cadangan rare earth yang dapat ditambang, sementara Geological Survey of Denmark and Greenland (GEUS) memperkirakan sumber daya rare earth Greenland mencapai sekitar 36,1 juta ton.

Riset GEUS menunjukkan bahwa Greenland mengandung 25 dari 34 material yang diklasifikasikan oleh Komisi Eropa sebagai “critical” rare dan raw minerals, dengan total 55 deposit critical-raw-material telah diidentifikasi di Greenland. Material ini digunakan dalam produk mulai dari motor kendaraan listrik hingga jet tempur.


Penolakan Tegas Denmark dan Greenland

Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik

Posisi Greenland: “Kami Memilih Denmark”

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan dengan tegas bahwa Greenland tidak ingin dimiliki, diatur, atau menjadi bagian dari Amerika Serikat, memilih untuk tetap berada dalam Kerajaan Denmark.

Premier Greenland Múte Bourup Egede sebelumnya menulis: “Greenland adalah milik kami. Kami tidak dijual dan tidak akan pernah dijual. Kami tidak boleh kehilangan perjuangan panjang kami untuk kemerdekaan”.

Pernyataan ini mencerminkan sentimen mayoritas penduduk Greenland. Polling Verian Group Januari 2025 menemukan bahwa 85% penduduk Greenland menentang meninggalkan Denmark untuk bergabung dengan Amerika Serikat, sementara hanya 6% yang mendukung gagasan tersebut.

Sikap Denmark: Teguh Membela Kedaulatan

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengulangi komentarnya dari 2019, dengan menegaskan bahwa Greenland tidak dijual. Frederiksen menggambarkan situasi ini sebagai “tekanan yang sepenuhnya tidak dapat diterima” dari sekutu terdekat dan memperingatkan bahwa “bagian tersulit mungkin masih ada di depan”.

Denmark juga mengambil langkah konkret untuk memperkuat posisinya:

Peningkatan Belanja Pertahanan: Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen mengumumkan peningkatan pengeluaran pertahanan di Greenland sebesar “jumlah miliaran dua digit” dalam Krone (antara $876 juta hingga $8,7 miliar USD).

Dukungan dari Raja Denmark: Dalam pidato pertamanya di 2025, Raja Frederik X tampaknya menegur tawaran Trump untuk memiliki Greenland ketika ia menyatakan: “Kita semua bersatu dan masing-masing dari kita berkomitmen untuk kerajaan Denmark, dari minoritas Denmark di Schleswig Selatan hingga Greenland”.


Pertemuan Gedung Putih: Dialog Tanpa Hasil

Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik

Pada 14 Januari 2026, terjadi pertemuan penting di Gedung Putih antara pejabat tinggi AS dan Denmark-Greenland untuk membahas nasib Greenland.

Peserta dan Dinamika Pertemuan

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Rasmussen menggambarkan pertemuan tersebut sebagai “frank but constructive” namun mengakui bahwa “kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika”. Ia menambahkan: “Jelas bahwa presiden memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland”.

Working Group Dibentuk

Meskipun tidak ada terobosan, para pihak sepakat untuk membentuk kelompok kerja tingkat tinggi. Rasmussen mengatakan kelompok kerja tersebut direncanakan bertemu selama beberapa minggu mendatang dalam upaya mencari kompromi.

Rasmussen menyatakan Denmark dan Greenland terbuka terhadap kemungkinan AS membuka lebih banyak pangkalan militer di pulau tersebut, tetapi menegaskan ada beberapa “red lines” yang tidak bisa dilewati Washington.

Respons Trump Pasca Pertemuan

Trump, menjawab pertanyaan reporter di Oval Office, mengatakan ia percaya “sesuatu akan berhasil” dan menegaskan: “Kita akan lihat apa yang terjadi. Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional”.


Sentimen Publik: Data Polling Terkini

Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik

Di Amerika Serikat

Dukungan publik Amerika untuk rencana Trump sangat terbatas:

Dukungan Umum Rendah: Polling Reuters/Ipsos yang dilakukan 12-13 Januari 2026 menemukan bahwa hanya 17% responden mendukung upaya AS untuk mengambil alih wilayah Denmark tersebut, sementara 47% tidak setuju dan 36% menjawab tidak tahu atau melewati pertanyaan.

Penolakan Terhadap Aksi Militer: Total 71% orang dewasa mengatakan bukan ide baik bagi AS menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland, termasuk 60% Republikan dan 89% Demokrat.

Polling YouGov 7-10 Januari 2026 menemukan bahwa hanya 8% orang Amerika mendukung penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland, dengan 73% menentang.

Perbedaan Partisan: Survei menunjukkan 40% Republikan dan 2% Demokrat mendukung proposal pengambilalihan presiden. Namun, mayoritas dari kedua kubu menentang aksi militer.

Kekhawatiran Dampak NATO: Sekitar 2 dari 3 orang Amerika—40% Republikan dan 91% Demokrat—sepakat bahwa mereka “khawatir” upaya mengambil Greenland bisa merusak NATO dan merusak hubungan.

Di Greenland

Seperti disebutkan sebelumnya, polling Verian Group Januari 2025 menunjukkan 85% penduduk Greenland menentang meninggalkan Denmark untuk bergabung dengan AS, dengan hanya 6% mendukung.


Implikasi Terhadap NATO dan Aliansi Eropa

Ancaman Terhadap Kohesi NATO

Krisis Greenland menimbulkan pertanyaan fundamental tentang masa depan NATO. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan bahwa serangan AS akan menandai akhir dari NATO.

Ian Lesser, distinguished fellow di GMF (think tank berbasis Washington), mengatakan taruhannya “sangat tinggi” untuk pembicaraan tersebut, memperingatkan bahwa kegagalan menyelesaikan krisis diplomatik “tidak hanya mengancam kohesi NATO, tetapi mengancam masa depan keberadaan Aliansi seperti yang kita kenal”.

Respons Militer Eropa

Negara-negara Eropa merespons dengan mengirimkan pasukan ke Greenland untuk latihan bersama dengan Denmark:

Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia—semua anggota NATO seperti Denmark—telah memutuskan untuk mengirim pasukan ke Greenland untuk berpartisipasi dalam latihan bersama.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa “unit militer Prancis pertama sudah dalam perjalanan. Yang lain akan menyusul”. Jerman mengirim 13 personel, sementara Norwegia mengirim dua personel militer untuk latihan 15-17 Januari 2026.

Pandangan Pemimpin Eropa

Emmanuel Macron memperingatkan bahwa dampak dari AS yang mencoba merebut Greenland dari Denmark akan “unprecedented” (belum pernah terjadi sebelumnya).

Carl Bildt, mantan Perdana Menteri Swedia, menggambarkan situasi sebagai “krisis mendalam” dan tidak mengharapkan AS, Greenland, dan Denmark dapat menemukan solusi diplomatik.


Analisis Para Ahli: Motif dan Strategi

Motif di Balik Retorika Trump

Para ahli menawarkan berbagai interpretasi tentang intensi sebenarnya di balik push Trump untuk Greenland:

Strategi Negosiasi: Beberapa analis berspekulasi bahwa Denmark mungkin harus memberikan konsesi yang mahal untuk mengatasi kekhawatiran Trump, dengan pemerintah di Copenhagen telah berjanji menginvestasikan lebih dari 6 miliar USD dalam berbagai kemampuan pertahanan di Greenland.

Ekspansionisme Amerika: Trump telah menegaskan selama kepresidenan keduanya bahwa AS harus mengakuisisi Greenland sebagai bagian dari kebijakan ekspansionisme Amerika.

Kontradiksi Internal: Pada saat yang sama, Trump tidak mungkin sangat khawatir tentang Rusia di Arktik, karena ia berulang kali mengisyaratkan bahwa AS dan Rusia harus memasuki proyek kerjasama ekonomi besar di Arktik—ini juga menjadi topik ketika Trump bertemu Putin di Alaska pada Agustus 2025.

Opsi untuk Denmark

Solusi yang mungkin bagi Denmark dalam menghadapi skenario seperti ini adalah mempercepat proses kemerdekaan yang sudah berlangsung di Greenland. Laporan diharapkan dari pemerintah sendiri Greenland pada akhir 2026 yang akan menunjukkan alternatif yang mungkin untuk kemerdekaan.

Mayoritas penduduk Greenland menginginkan kemerdekaan dari Denmark, tetapi hanya ketika secara ekonomi layak. Referendum tentang Greenland merdeka dengan hasil yang mengarah ke negara baru bisa membungkam retorika Trump.


Konteks Historis: AS dan Greenland

Sejarah Tawaran Pembelian

Ada diskusi internal yang signifikan dalam pemerintah federal AS tentang menawarkan untuk membeli Greenland pada 1867, 1910, 1946, dan 1955, dan pembelian diadvokasi oleh Menteri Luar Negeri Amerika William H. Seward dan James F. Byrnes, serta secara pribadi oleh Wakil Presiden Nelson Rockefeller.

Setelah Perang Dunia II, AS secara diam-diam menawarkan untuk membeli Greenland, tetapi ditolak oleh Denmark.

Kehadiran Militer AS

Sejak Perang Dunia II, AS memiliki setidaknya satu pangkalan militer di Greenland. Perjanjian Pertahanan Greenland 1951 mengizinkan AS mempertahankan pangkalan militernya di Greenland, dan mendirikan pangkalan atau “defense areas” baru jika dianggap perlu oleh NATO.

Perjanjian memberikan AS yurisdiksi permanen atas defense areas Thule, Sondrestrom, dan Narsarsuaq, dan pasukan Amerika dapat dengan bebas menggunakan dan bergerak di antara mereka.


Perspektif Ekonomi: Ketergantungan dan Potensi

Ketergantungan pada Denmark

Ekonomi Greenland kecil, sangat bergantung pada perikanan, dan bertahan hidup sebagian besar dari block grant tahunan dari Denmark sekitar DKK 3,9 miliar (€520 juta), setara dengan sekitar €9.000 per penduduk per tahun.

Potensi Sumber Daya Alam

Greenland saat ini tidak memproduksi rare earth, tetapi hanya satu dari 55 deposit critical-raw-material yang telah diidentifikasi yang saat ini sedang ditambang.

Uni Eropa saat ini 100% bergantung pada impor China untuk heavy rare earths, sementara AS juga sangat bergantung pada rantai pasokan luar negeri.

Baca Juga Prabowo Umumkan Swasembada Pangan 2026


FAQ: Pertanyaan Umum tentang Krisis Greenland

Mengapa Trump menginginkan Greenland?

Trump memberikan alasan keamanan nasional sebagai justifikasi utama, mengatakan Greenland vital untuk sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dan untuk mencegah Rusia atau China mengambil alih pulau tersebut. Namun, para ahli mempertanyakan klaim ini dan menunjukkan bahwa aktivitas militer Rusia-China lebih terkonsentrasi di dekat Alaska daripada Greenland.

Bagaimana respons Denmark dan Greenland?

Baik Denmark maupun Greenland dengan tegas menolak gagasan pengambilalihan AS. Perdana Menteri Greenland menyatakan mereka “memilih Denmark,” sementara PM Denmark memperingatkan bahwa serangan AS akan mengakhiri NATO. Denmark juga meningkatkan belanja pertahanan di Greenland hingga miliaran dolar.

Apa kata polling tentang dukungan publik?

Dukungan sangat rendah di kedua negara. Hanya 17% orang Amerika mendukung upaya akuisisi, dengan 71% menentang penggunaan kekuatan militer. Di Greenland, 85% penduduk menolak bergabung dengan AS, dengan hanya 6% mendukung.

Apa implikasi untuk NATO?

Krisis ini mengancam kohesi NATO secara fundamental. Para pemimpin Eropa memperingatkan bahwa tindakan AS terhadap sekutu NATO akan menjadi preseden yang belum pernah terjadi dan bisa mengakhiri aliansi seperti yang kita kenal. Negara-negara Eropa telah mengirim pasukan ke Greenland sebagai tanda solidaritas dengan Denmark.

Apakah ada kemungkinan solusi diplomatik?

Sebuah working group tingkat tinggi telah dibentuk untuk mengeksplorasi kompromi. Denmark terbuka terhadap pembukaan pangkalan militer AS tambahan di Greenland di bawah perjanjian yang ada, tetapi menegaskan ada “red lines” yang tidak bisa dilanggar. Namun, posisi kedua belah pihak masih sangat berbeda.


Masa Depan yang Tidak Pasti

Krisis Greenland Januari 2026 menandai salah satu tantangan diplomatik paling serius yang dihadapi NATO sejak pembentukannya. Dengan Trump menyatakan kontrol penuh atas Greenland sebagai “unacceptable” dan Denmark-Greenland dengan tegas menolak, ruang untuk kompromi tampak sangat terbatas.

Takeaway Utama:

  1. Ketegangan Belum Reda: Pertemuan Gedung Putih 14 Januari 2026 tidak menghasilkan terobosan, dengan kedua belah pihak mempertahankan posisi yang bertentangan secara fundamental.
  2. Dukungan Publik Minim: Polling menunjukkan mayoritas warga Amerika dan hampir semua penduduk Greenland menentang rencana akuisisi Trump, terutama melalui kekuatan militer.
  3. Ancaman Terhadap NATO: Krisis ini mengancam kohesi aliansi pertahanan terpenting Barat, dengan para pemimpin Eropa memperingatkan konsekuensi “unprecedented” jika AS bertindak melawan sekutu NATO.
  4. Working Group Sebagai Harapan: Pembentukan kelompok kerja tingkat tinggi menawarkan jalur diplomatik untuk mengatasi kekhawatiran keamanan AS sambil menghormati kedaulatan Greenland-Denmark.
  5. Faktor Jangka Panjang: Kemerdekaan Greenland dari Denmark, yang didukung mayoritas penduduk ketika ekonomi memungkinkan, bisa menjadi solusi jangka panjang yang mengubah dinamika situasi ini.

Para pengamat akan terus memantau perkembangan working group dan retorika Trump di minggu-minggu mendatang. Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Pasifik, krisis ini menjadi reminder penting tentang bagaimana dinamika kekuatan global bergeser dan pentingnya menjaga kedaulatan nasional di era ketidakpastian geopolitik.


Sumber Referensi

  1. ABC News – “Trump again says ‘we need Greenland’ after Danish officials outline ‘fundamental disagreement'” (14 Januari 2026)
  2. Wikipedia – “Proposed United States acquisition of Greenland” (Diakses 17 Januari 2026)
  3. CNBC – “Greenland: What to watch as Trump’s team prepares for Denmark meeting” (8 Januari 2026)
  4. Al Jazeera – “Greenland and Denmark say Trump set on ‘conquering’ territory after meeting” (14 Januari 2026)
  5. CNBC – “U.S., Greenland and Denmark set for talks amid Trump takeover threats” (14 Januari 2026)
  6. Euronews – “Greenland’s value explained: Could Trump really buy the Danish island?” (15 Januari 2026)
  7. CNN – “Trump says ‘anything less’ than US control of Greenland is ‘unacceptable'” (14 Januari 2026)
  8. The Arctic Institute – “Trump & Greenland: Is There Logic in the Chaos?” (16 Januari 2026)
  9. CNBC – “Greenland: Five takeaways after U.S., Denmark hold White House talks” (15 Januari 2026)
  10. Fox News – “Only 1 in 5 Americans support US effort to acquire Greenland, poll finds” (15 Januari 2026)
  11. The Hill – “Just 17 percent approve of Trump Greenland acquisition efforts: Poll” (14 Januari 2026)
  12. Reuters/Ipsos – Polling data (12-13 Januari 2026)
  13. YouGov – “Most Americans remain opposed to seizing Greenland with military force” (15 Januari 2026)

Artikel ini ditulis berdasarkan riset mendalam dari sumber-sumber berita internasional terpercaya dan laporan polling resmi. Semua data dan statistik dalam artikel ini telah diverifikasi dengan sumber yang kredibel dan dapat diakses publik per 17 Januari 2026.