Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk segera membentuk tim kajian guna menyelesaikan masalah banjir dan pengelolaan air di Pulau Jawa, termasuk Jakarta. Keputusan ini diambil menyusul banjir yang melanda Jakarta pada 18 dan 22 Januari 2026, dengan 132 RT dan 22 ruas jalan tergenang per 22 Januari 2026 pukul 20.00 WIB.
Banjir yang melanda ibu kota pada Januari 2026 kembali membuktikan bahwa permasalahan pengelolaan air di Jakarta memerlukan solusi jangka panjang yang terintegrasi. Instruksi presiden untuk membentuk tim kajian khusus menandai pendekatan baru pemerintah dalam menangani masalah yang telah berulang setiap tahun ini.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang pembentukan tim kajian, strategi penanganan banjir yang direncanakan, serta apa artinya bagi warga Jakarta yang selalu resah setiap musim hujan tiba.
Latar Belakang Pembentukan Tim Kajian Banjir Jakarta

Perintah Presiden dari Swiss
Dalam arahan Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Prabowo memerintahkan membuat tim kajian untuk membuat grand design menangani permasalahan banjir khususnya di Pulau Jawa. Meski sedang melakukan kunjungan kerja ke Swiss untuk menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos, Prabowo tetap memantau kondisi Jakarta yang dilanda banjir.
Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi, presiden telah berkomunikasi intensif dengan jajarannya di tanah air selama dua hari untuk memonitor situasi banjir yang terjadi di berbagai wilayah Jakarta.
Alasan di Balik Keputusan Ini
Prabowo memerintahkan untuk secepat-cepatnya membentuk tim kajian untuk menganalisa dan membuat grand design penyelesaian masalah yang berkenaan dengan air karena masalah ini rutin berulang setiap tahunnya.
Keputusan pembentukan tim kajian ini didorong oleh beberapa faktor krusial:
Banjir sebagai masalah rutin tahunan – Setiap musim hujan, Jakarta selalu menghadapi ancaman banjir yang mengganggu aktivitas warga. Pola ini menunjukkan bahwa penanganan reaktif tidak lagi efektif dan diperlukan solusi struktural jangka panjang.
Dampak meluas ke infrastruktur kritis – Dirut PT KAI Bobby Rasyidin melaporkan dalam waktu satu minggu terakhir ada 16 titik banjir yang bertambah menjadi 17, dengan genangan di jalur rel kereta api yang mengganggu perjalanan. Gangguan pada transportasi publik menunjukkan bahwa banjir tidak hanya masalah lokal namun berdampak sistemik.
Perubahan kondisi lingkungan – Menurut data yang diketahui Prasetyo, Jakarta sempat memiliki seribu situ atau danau yang berfungsi menjadi titik resapan air, namun kini hanya tersisa 200 situ. Berkurangnya daerah resapan air secara drastis menjadi salah satu penyebab utama banjir yang semakin parah.
Data Banjir Jakarta Januari 2026

Kondisi Terkini Banjir
Berdasarkan laporan resmi BPBD DKI Jakarta, berikut adalah data faktual kondisi banjir pada periode Januari 2026:
Banjir 18 Januari 2026:
- 48 RT dan 29 ruas jalan terendam banjir per pukul 14.00 WIB
- Ketinggian banjir bervariasi dari 10 cm hingga 1 meter
- Luas wilayah terdampak 2,21 kilometer persegi dari 661,5 kilometer persegi luas Jakarta
Banjir 22 Januari 2026:
- 132 RT dan 22 ruas jalan tergenang per pukul 20.00 WIB
- Ketinggian air mencapai 150 cm di beberapa titik di Jakarta Barat
Banjir 23 Januari 2026:
- 129 kawasan RT dan 14 ruas jalan tergenang per pukul 07.00 WIB
- Ketinggian genangan bervariasi antara 10 sampai 150 sentimeter
Curah Hujan Ekstrem
BMKG mencatat hujan ekstrem mengguyur Jakarta terutama di bagian utara, dengan pengamatan di beberapa stasiun mencatatkan angka di atas 200 mm, tertinggi di Muara Angke hingga 267 mm.
Intensitas curah hujan yang ekstrem ini menjadi pemicu langsung banjir, namun bukan satu-satunya penyebab. Kombinasi antara curah hujan tinggi, berkurangnya daerah resapan air, dan perubahan tata ruang menciptakan kondisi yang rentan terhadap banjir.
Wilayah Paling Terdampak
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, wilayah yang paling parah terdampak meliputi:
Jakarta Barat – Area seperti Kedaung Kali Angke (ketinggian 80 cm), Rawa Buaya (45-150 cm), dan Duri Kosambi (50-80 cm) menjadi titik-titik dengan genangan tertinggi.
Jakarta Pusat – Kelurahan Karet Tengsin mengalami genangan dengan ketinggian 30-70 cm.
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur – Berbagai kelurahan juga mengalami genangan meski dengan tingkat yang lebih rendah dibanding Jakarta Barat.
Rencana Grand Design Penanganan Banjir

Pendekatan Terintegrasi Hulu ke Hilir
Prasetyo mengatakan bahwa Prabowo meminta penanganan dari hulu ke hilir termasuk dengan tim Otorita Pengelolaan Pantai Utara Jawa atau proyek Giant Sea Wall.
Konsep grand design ini mengadopsi pendekatan holistik yang tidak hanya mengatasi gejala namun juga akar masalah banjir. Penanganan hulu meliputi konservasi hutan dan daerah tangkapan air, sementara di hilir fokus pada infrastruktur drainase dan pengendali banjir seperti tanggul.
Koordinasi Lintas Kementerian
Tim kajian akan melibatkan Bappenas, Kemenko Infra, Kementerian PUPR, ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan Kemendagri karena masalah ini lintas provinsi.
Pelibatan berbagai kementerian menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah banjir secara komprehensif. Setiap kementerian memiliki peran spesifik dalam mengatasi berbagai aspek yang berkontribusi terhadap banjir.
Bappenas – Merancang perencanaan strategis jangka panjang untuk pengelolaan air dan pencegahan banjir dengan pendekatan berbasis data dan proyeksi masa depan.
Kemenko Infrastruktur dan Kementerian PUPR – Mengembangkan infrastruktur fisik seperti sistem drainase modern, waduk, dan pompa air yang lebih efisien.
Kementerian ATR/BPN – Menata kembali tata ruang dan memastikan ada cukup ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air.
Kementerian Kehutanan – Menjaga kawasan konservasi hulu yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami.
Kementerian Pertanian – Mengoptimalkan fungsi lahan pertanian yang juga berperan sebagai area resapan.
Kemendagri – Mengkoordinasikan pelaksanaan di tingkat daerah karena masalah banjir melibatkan banyak wilayah administrasi.
Proyek Giant Sea Wall
Salah satu komponen penting dalam rencana jangka panjang adalah proyek tanggul raksasa atau Giant Sea Wall. Proyek infrastruktur berskala besar ini dirancang untuk melindungi Jakarta dari ancaman banjir rob (banjir air laut) yang semakin mengkhawatirkan akibat kenaikan permukaan laut.
Meski detail teknis dan timeline proyek ini belum diumumkan secara resmi, penyebutan eksplisit oleh Mensesneg menunjukkan bahwa proyek ini menjadi prioritas dalam strategi penanganan banjir jangka panjang.
Respons Pemerintah Daerah Jakarta

Komitmen Gubernur Pramono Anung
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI siap bekerja sama dengan pemerintah pusat dan akan menjalankan semua arahan Presiden Prabowo terkait penanganan banjir.
Kesediaan pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat sangat krusial mengingat penanganan banjir memerlukan koordinasi yang erat antara berbagai tingkat pemerintahan.
Program Operasi Modifikasi Cuaca
Salah satu fokus kerja sama adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang membutuhkan biaya besar, dan Jakarta akan mengambil peran lebih besar termasuk membantu wilayah lain di Jabodetabek.
Operasi Modifikasi Cuaca merupakan upaya mengurangi intensitas hujan dengan teknologi penyemaian awan. Jakarta berkomitmen tidak hanya melaksanakan OMC untuk wilayahnya sendiri, namun juga membantu daerah sekitar yang memiliki keterbatasan anggaran.
Ini adalah langkah strategis mengingat banjir di Jakarta sering dipicu oleh curah hujan di wilayah hulu seperti Bogor dan Depok. Dengan membantu daerah lain melakukan OMC, Jakarta turut mencegah luapan air dari daerah sekitar.
Koordinasi dengan BNPB
Pemprov DKI juga akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penanganan banjir lintas wilayah.
BNPB memiliki peran vital dalam mengkoordinasikan tanggap darurat saat banjir terjadi, termasuk evakuasi korban, distribusi bantuan, dan koordinasi dengan berbagai pihak. Kerjasama dengan BNPB memastikan respons yang cepat dan terorganisir saat bencana terjadi.
Faktor Penyebab Banjir Jakarta

Curah Hujan Tinggi
Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu langsung, namun bukan satu-satunya faktor. Prasetyo menilai curah hujan tinggi bukan faktor utama penyebab banjir, ada faktor lain seperti perubahan tata ruang dan pendangkalan daerah aliran sungai.
Berkurangnya Daerah Resapan Air
Data mengatakan bahwa wilayah Jabodetabek dulunya memiliki kurang lebih 1.000 situ atau danau yang menjadi reservoir daerah tangkapan air, kini hanya tersisa 200 situ.
Hilangnya 800 situ atau sekitar 80% dari total daerah resapan air alami merupakan faktor struktural yang sangat signifikan. Situ berfungsi sebagai reservoir alami yang menyerap air hujan berlebih. Ketika situ-situ ini hilang karena alih fungsi lahan, air hujan tidak memiliki tempat untuk diserap dan langsung mengalir ke permukaan, menyebabkan banjir.
Perubahan Tata Ruang
Pembangunan yang pesat di Jakarta dan sekitarnya telah mengubah lanskap kota secara drastis. Lahan hijau dan area resapan dikonversi menjadi bangunan dan jalan beraspal yang kedap air. Hal ini mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan.
Pendangkalan Sungai
Sedimentasi dan sampah yang menumpuk di sungai-sungai di Jakarta mengurangi kapasitas tampung air. Ketika curah hujan tinggi, sungai tidak mampu menampung volume air yang besar sehingga meluap dan menyebabkan banjir.
Langkah Mitigasi dan Pencegahan
Upaya Jangka Pendek
Operasi Modifikasi Cuaca – Gubernur Jakarta telah menginstruksikan pelaksanaan OMC dua kali sehari untuk mengurangi intensitas hujan. Teknologi ini membantu mengurangi curah hujan di area kritis meski bukan solusi permanen.
Penyedotan Genangan – BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk mengkoordinasikan Dinas SDA, Dinas Bina Marga, dan Dinas Gulkarmat melakukan penyedotan genangan di berbagai titik.
Monitoring Real-time – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan laman pantaubanjir.jakarta.go.id yang menyajikan informasi kondisi banjir secara detail hingga tingkat RT, memungkinkan warga untuk memantau situasi di wilayah mereka.
Rencana Jangka Panjang
Normalisasi Sungai – Pengerukan dan pelebaran sungai untuk meningkatkan kapasitas tampung air serta memastikan aliran air lancar.
Pembangunan Infrastruktur Drainase – Pengembangan sistem drainase modern yang mampu menampung dan mengalirkan air hujan dengan lebih efisien.
Revitalisasi Situ dan Waduk – Pemulihan fungsi situ-situ yang masih ada dan pembangunan waduk baru untuk meningkatkan kapasitas tampung air.
Penataan Tata Ruang – Memastikan ada cukup ruang terbuka hijau dan daerah resapan air dalam perencanaan tata ruang kota.
Giant Sea Wall – Pembangunan tanggul raksasa untuk melindungi Jakarta dari banjir rob dan kenaikan permukaan air laut.
Dampak Banjir pada Warga Jakarta
Kerugian Material dan Ekonomi
Banjir tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan namun juga kerugian ekonomi yang signifikan. Warga harus menanggung biaya perbaikan rumah, kendaraan, dan barang-barang yang rusak akibat terendam air.
Aktivitas ekonomi juga terganggu, banyak toko dan usaha yang terpaksa tutup saat banjir melanda. Pekerja tidak bisa berangkat ke kantor, menyebabkan produktivitas menurun.
Gangguan Transportasi
Banjir merendam rel kereta api di Jakarta Utara menyebabkan perjalanan sejumlah KRL terganggu, dengan jalur ke Tanjung Priok dihentikan sementara.
Gangguan pada sistem transportasi publik mempengaruhi jutaan warga yang mengandalkan KRL untuk mobilitas harian mereka. Selain KRL, banjir juga menutup berbagai ruas jalan, menyebabkan kemacetan parah di jalan-jalan alternatif.
Dampak Kesehatan
Air banjir yang kotor dan tercemar dapat menyebabkan berbagai penyalah kulit, diare, dan penyakit lain yang ditularkan melalui air. Genangan air juga menjadi tempat berkembang biak nyamuk, meningkatkan risiko demam berdarah.
Pengungsian Warga
Sebanyak 29 jiwa di Kelurahan Tegal Alur diungsikan di RPTRA Alur Anggrek serta 24 jiwa di Kelurahan Rawa Terate diungsikan di Lapangan United Traktor dan Masjid Al Istiqomah.
Pengungsian menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan pada kehidupan sehari-hari warga. Mereka harus meninggalkan rumah dan tinggal sementara di tempat pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
Saat Peringatan Cuaca Ekstrem
Ketika BPBD atau BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem, warga sebaiknya:
- Pantau informasi terkini melalui laman pantaubanjir.jakarta.go.id atau media sosial resmi BPBD DKI Jakarta
- Siapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian ganti, dan makanan darurat
- Amankan barang-barang berharga di tempat yang lebih tinggi
- Pastikan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian terdekat
- Charge penuh baterai ponsel dan power bank untuk komunikasi darurat
Saat Banjir Terjadi
- Jangan panik, evaluasi ketinggian air dan keputusan untuk mengungsi
- Matikan listrik dan gas untuk mencegah bahaya kebakaran atau sengatan listrik
- Jangan mencoba menerobos banjir dengan kendaraan kecuali benar-benar diperlukan
- Hubungi Call Center Jakarta Siaga 112 jika membutuhkan bantuan evakuasi
- Ikuti instruksi dari petugas dan jangan kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman
Pasca Banjir
- Bersihkan rumah dari lumpur dan kotoran dengan hati-hati
- Periksa kondisi instalasi listrik dan gas sebelum digunakan kembali
- Buang makanan yang terkontaminasi air banjir
- Waspadai gejala penyakit dan segera berobat jika sakit
- Laporkan kerusakan infrastruktur publik ke pihak berwenang
Baca Juga Trump Ingin Greenland 2026 Krisis Diplomatik
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Prabowo Bentuk Tim Kajian Atasi Banjir Jakarta
Kapan Prabowo memerintahkan pembentukan tim kajian banjir?
Prabowo memerintahkan pembentukan tim kajian pada 22 Januari 2026 saat berada di Swiss untuk menghadiri World Economic Forum di Davos. Instruksi ini disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi setelah Prabowo memantau kondisi banjir yang melanda Jakarta.
Apa tujuan dari tim kajian yang dibentuk Prabowo?
Tim kajian bertujuan menganalisa dan membuat grand design penyelesaian masalah pengelolaan air di Pulau Jawa, khususnya Jakarta. Tim akan mencari solusi terintegrasi dari hulu ke hilir untuk mengatasi masalah banjir yang rutin berulang setiap tahun.
Kementerian apa saja yang terlibat dalam tim kajian ini?
Tim kajian melibatkan Bappenas, Kementerian Koordinator Infrastruktur, Kementerian PUPR, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Dalam Negeri. Pelibatan berbagai kementerian ini karena penanganan banjir memerlukan pendekatan lintas sektor dan lintas provinsi.
Apa yang dimaksud dengan grand design penanganan banjir?
Grand design adalah rencana besar dan komprehensif yang mencakup penanganan banjir dari hulu hingga hilir. Ini termasuk konservasi daerah tangkapan air, normalisasi sungai, pembangunan infrastruktur drainase, penataan tata ruang, hingga proyek besar seperti Giant Sea Wall.
Bagaimana peran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rencana ini?
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmen penuh untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat. Jakarta akan berkontribusi dalam pembiayaan Operasi Modifikasi Cuaca, tidak hanya untuk Jakarta namun juga membantu wilayah sekitar di Jabodetabek yang memiliki keterbatasan anggaran.
Mengapa Jakarta selalu banjir setiap tahun?
Jakarta mengalami banjir rutin karena kombinasi beberapa faktor: curah hujan tinggi, berkurangnya daerah resapan air dari 1.000 situ menjadi hanya 200 situ, perubahan tata ruang yang mengurangi ruang terbuka hijau, dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah.
Apa itu Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)?
OMC adalah teknologi penyemaian awan untuk mengurangi intensitas curah hujan. Pesawat khusus menyebarkan bahan kimia ke awan untuk memicu hujan lebih awal di area yang aman, sehingga mengurangi curah hujan di area kritis seperti Jakarta.
Harapan Baru Penanganan Banjir Jakarta
Pembentukan tim kajian oleh Presiden Prabowo Subianto menandai pendekatan baru dalam menangani banjir Jakarta yang selama ini menjadi masalah rutin tahunan. Beberapa poin penting yang perlu diingat:
Pendekatan komprehensif hulu-hilir – Tidak lagi hanya mengatasi gejala namun menyelesaikan akar masalah dari daerah tangkapan air hingga muara.
Kolaborasi lintas kementerian – Pelibatan berbagai kementerian menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini secara holistik.
Dukungan pemerintah daerah – Komitmen Gubernur Jakarta untuk bekerja sama dan berkontribusi dalam pembiayaan menunjukkan sinergi yang baik antara pusat dan daerah.
Rencana jangka panjang – Grand design yang akan disusun diharapkan memberikan solusi struktural permanen, bukan hanya penanganan reaktif saat banjir terjadi.
Pentingnya partisipasi warga – Keberhasilan penanganan banjir juga bergantung pada kesadaran warga untuk menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mematuhi tata ruang.
Meski pembentukan tim kajian ini memberikan harapan baru, perlu diingat bahwa penanganan banjir adalah pekerjaan jangka panjang yang memerlukan komitmen berkelanjutan. Warga Jakarta perlu bersabar dan mendukung program-program pemerintah sambil tetap waspada dan siap menghadapi banjir yang mungkin masih terjadi dalam jangka pendek.
Tentang Penulis:
Artikel ini ditulis berdasarkan riset mendalam terhadap sumber-sumber berita terpercaya dan data resmi pemerintah untuk memberikan informasi akurat dan komprehensif tentang upaya pemerintah mengatasi banjir Jakarta.
Sumber Referensi:
- Detik.com – “Prabowo Perintahkan Bentuk Tim Penanganan Banjir, Pramono Siap Kerja Sama” (23 Januari 2026)
- Liputan6.com – “Prabowo Perintahkan Bentuk Tim Kajian Banjir, Pramono Isyaratkan Jakarta akan Ambil Peran Lebih Besar” (23 Januari 2026)
- CNN Indonesia – “Prabowo Pantau Banjir Jakarta dari Swiss, Instruksi Bentuk Tim Kajian” (22 Januari 2026)
- CNBC Indonesia – “Prabowo Beri Perintah Mensesneg Urus Banjir, Singgung Grand Design Air” (22 Januari 2026)
- BPBD DKI Jakarta – Data Genangan Banjir (22-23 Januari 2026)
- Katadata Databoks – “Sebaran Titik Banjir Jakarta” (23 Januari 2026)
- Tempo.co – “Banjir Jakarta Minggu Pagi Ini: Waduk Pluit Status Bahaya” (18 Januari 2026)
- Kompas.com – “Daftar 17 Ruas Jalan yang Tergenang Banjir Jakarta Hari Ini” (22 Januari 2026)